Tampilkan postingan dengan label puisi aneh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi aneh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2008

satu by sutardji colzoum bachri

kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku

Selasa, 28 Oktober 2008

Terkenang celana Pak Guru by Joko Pinurbo (1996)


Masih pagi sekali, Bapak Guru sudah siap di kelas. Kepalanya yang miskin dan merana terkantuk-kantuk, kemudian terkulai di atas meja. Kami, anak-anak yang bengal dan nakal, beriringan masuk sambil mengucapkan, “Selamat pagi, Bapak Guru!” Bapak Guru tambah nyenyak. Dengkur dan air liurnya seakan mau mengatakan, “Bapak sangat lelah.”
Hari itu mestinya pelajaran Sejarah. Bapak Guru telah berjanji menceritakan kisah para pahlawan yang potretnya terpampang di seluruh ruang.Tapi kami tak tega membangunkannya. Kami baca di papan tulis, “Baca halaman 10 dan seterusnya. Hafalkan semua nama dan peristiwa.”
Sudah siang, Bapak Guru belum juga siuman. Hanya rit celananya yang setengah terbuka seakan mau mengatakan, “Bapak habis lembur semalam.” Ada yang cekikikan. Ada yang terharu dan mengusap matanya yang berkaca-kaca. Ada pula yang lancang membelai-belai gundulnya sambil berkata, “Kasihan kepala yang suka ikut penataran ini.”
Sekian tahun kemudian kami datang mengunjungi seorang sahabat yang sedang tidur di dalam makam di bekas lokasi sekolah kami. Kami lihat seorang lelaki tua terbungkuk-bungkuk membukakan pintu kuburan. “Silakan,” katanya. “Dia Pak Guru kita itu!” temanku berseru. “Kau ingat rit celananya yang setengah terbuka?” “Tenang. Jangan mengusik ketenteramannya,” aku memperingatkan.
“Dia pasti damai dan bahagia di tempat yang begini bersih dan tenang,” kata temanku sambil menunjuk nisan sahabatnya. “Kelak aku juga ingin dikubur di sini.” “Ah, jangan berpikir yang bukan-bukan,” timpalku. Sementara si penjaga kuburan yang celananya congklang dan rambutnya sudah memutih diam-diam mengawasi kami dari balik pohon kamboja.

Jumat, 24 Oktober 2008

Ping Pong by Sutardji Calzoum Bachri

Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping dibilang pong
Pong pong bilang ping

mau pong? bilang ping

mau mau bilang pong
mau ping? bilang pong
mau mau bilang ping
ya pong ya ping

ya ping ya pong
tak ya pong tak ya ping

kutakpunya ping
kutakpunya pong

pinggir ping kumau pong
tak tak bilang ping
ping pong kumau ping
tak tak bilang pong

sembilu jarakMu merancap nyaring

Mantera by Sutardji Calzoum Bachri

hei Kau dengar manteraku

Kau dengar kucing memanggil-Mu

izukalizu

M a p a k a s a b a itasatali

tutulita

papliko arukazabaku kodega zuzukalibu

tutukaliba dekodega zamzam logotokoco

zukuzangga zegezegeze zukuzangga zege

zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzang

ga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zu

kuzangga zegezegeze aahh….!

nama-nama kalian bebas

carilah tuhan semaumu