Kamis, 19 November 2009

I Don't Want to Love You, But I Do by Cecilia Lucass

You were born out of death to a life in a cage
Where bombs are not the only reason people die
Fed by the violence of hunger and homelessness
Raised by colonialism
Your heart and your will still grew strong

You scare me
Not just because they tell me to be scared
Not just because they repeat, repeat, repeat
The story of 1983
Begging me to understand
Americans are worth more than Lebanese

Why do they never tell me about Jihad al Bina
That you have created so much
Saved so many lives
Improved so many more

It scares me
When I admit to myself
That I would be more scared without you
If I still took the time to see

To see the violence that does not just fall from the skies
that exists in hunger and homelessness
in colonialism

It scares me
That my hope is tangled up
In actions I would never want to commit

But I don't sleep much these days
And I've tried hard
But I haven't found
Anything
to give me hope that they will listen

They repeat, repeat, repeat
The story of Gaza withdrawal
Hoping we won't see
The violence that continues
That kills in so many ways
Hoping we will now support it
Or at least stop looking

They insist talk does not work
When there is no one to talk to
It is hard to find an interlocutor
When you're not willing to listen
To see
To feel

How do you keep faith that talk will work
When even they are insisting it won't?

I am learning to have hope in you
I am learning to see you as so much more
Than those actions I would never want to commit

You amaze me.
Born out of death to a life in a cage
Raised by colonialism
You did not accept imprisonment as natural
You did not accept hunger as justice
You did not accept
the ceaseless killing in so many ways
Of those next to you
Or those farther away

I love you
But I will never be yours
I don't want you inside me
You are too male for me

And I cannot, gratefully, fully silence the voice that insists:
Some deaths you did accept
Including of some who were listening

That is why the full statement that the question-marks pry me with reads:
It is sad, but I'm learning to have hope in Hizbulla

Maybe it is the naivety
of one whose life has never been directly threatened
I still believe:
Be the change you want to see in the world.

Rabu, 23 September 2009

Seorang di bawah Pohon Meminta Selembar Tissue by m aan mansyur

(sore di sepi taman
di bawah sebuah pohon)

ia menumpahkan airmata

karena seseorang yang meninggalkannya
dan seseorang lain yang mungkin akan meninggalkannya

apakah anda punya selembar tissue? ia bertanya

(aku bayangkan pohon di atasnya
runtuh dan jatuh di tubuhnya)

hanya dibutuhkan airmata
buat membersihkan airmata

tissue tak mencintai pohon, kataku
lalu kembali berlari-lari kecil menjaga kesehatan
karena besar mencintai diri dan istriku

Senin, 31 Agustus 2009

CINTA yang AGUNG by khalil gibran

Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh

Kamis, 20 Agustus 2009

kerawang - bekasi by chairil anwar

Kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi
tidak bisa berteriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal hanyalah tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas kenyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Kerawang-Bekasi

Kamis, 06 Agustus 2009

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta by WS Rendra (in memoriam)

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu

Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang 'tidak'
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada

Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi

Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya

Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengawini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

Senin, 27 Juli 2009

the river by ralph waldo emerson (1827)

And I behold once more
My old familiar haunts; here the blue river,
The same blue wonder that my infant eye
Admired, sage doubting whence the traveller came,--
Whence brought his sunny bubbles ere he washed
The fragrant flag-roots in my father's fields,
And where thereafter in the world he went.
Look, here he is, unaltered, save that now
He hath broke his banks and flooded all the vales
With his redundant waves.
Here is the rock where, yet a simple child,
I caught with bended pin my earliest fish,
Much triumphing,--and these the fields
Over whose flowers I chased the butterfly,
A blooming hunter of a fairy fine.
And hark! where overhead the ancient crows
Hold their sour conversation in the sky:--
These are the same, but I am not the same,
But wiser than I was, and wise enough
Not to regret the changes, tho' they cost
Me many a sigh. Oh, call not Nature dumb;
These trees and stones are audible to me,
These idle flowers, that tremble in the wind,
I understand their faery syllables,
And all their sad significance. The wind,
That rustles down the well-known forest road--
It hath a sound more eloquent than speech.
The stream, the trees, the grass, the sighing wind,
All of them utter sounds of 'monishment
And grave parental love.
They are not of our race, they seem to say,
And yet have knowledge of our moral race,
And somewhat of majestic sympathy,
Something of pity for the puny clay,
That holds and boasts the immeasurable mind.
I feel as I were welcome to these trees
After long months of weary wandering,
Acknowledged by their hospitable boughs;
They know me as their son, for side by side,
They were coeval with my ancestors,
Adorned with them my country's primitive times,
And soon may give my dust their funeral shade.

Selasa, 14 Juli 2009

grass by carl sandburg

PILE the bodies high at Austerlitz and Waterloo.
Shovel them under and let me work

I am the grass; I cover all.

And pile them high at Gettysburg
And pile them high at Ypres and Verdun.
Shovel them under and let me work.
Two years, ten years, and passengers ask the conductor:

What place is this?
Where are we now?

I am the grass.
Let me work